Senin, 17 Maret 2014

Seminggu tak ada libur. Seperti tidak ada malam minggu. Meda melangkahkan kakinya menyebrangi Jalan Prof. Dr. Moestopo menuju Jalan Karang Menjangan. Terlihat dari langkahnya yang pendek-pendek dan cepat, sepertinya ia tersiksa. "Rok ini!", gumam Meda dalam hati. Keringatnya bercucuran, ia nampak semakin kelelahan.
Meda, seorang gadis berusia 18 tahun, bernama lengkap Medalia Nusantara. Namanya sedikit aneh, namun dalam namanyalah tergambar momen penting negara ini. Lahir pada tanggal 21 Mei 1994 di Surabaya, yang saat itu bertepatan dengan kemenangan Indonesia dalam merebut Piala Thomas dan Uber. Ayah dan ibunya adalah penikmat setia sajian olahraga tepok bulu. Untung saja, kakaknya yang bernama Medika Artsen Oktavia lahir di tanggal 24 Oktober 1989, tepat di hari Dokter Indonesia. Kalau lahir di tahun 1992 tepat pada saat Susy Susanti dan Alan Budi Kusuma meraih medali emas Olimpiade Barcelona, mungkin namanya juga akan menjadi "Medali".
Meda baru saja selesai mengikuti kegiatan LKMM-TD (Latihan Keterampilan dan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar), ia harus membatalkan niatnya untuk bertemu ibu dan ayahnya yang saat ini sudah tinggal di Malang.
17.45 ia sampai di rumah singgah. Lelah rasanya. Rasa mengeluh hampir hinggap dan keluar dari mulutnya, mengingat besok ada hari Senin. "Nggak boleh! Bidan nggak boleh ngeluh!!!!", jerit semangat hatinya pada dirinya. Ya, Meda adalah Mahasiswa S1 Pendidikan Bidan Universitas Airlangga. Jelas tertanam dalam dirinya bahwa menjadi seorang bidan tidak ada kata mengeluh, apalagi kata menyerah. Bukankah ini warna-warni hidup? Hidup kita takkan berarti tanpa kita melakukan dan dapat apa-apa. kita akan dapat sesuatu jika kita melakukan sesuatu. Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh seorang Medalia.
Selesai shalat maghrib Meda merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Terlihat temannya yang tak ada di ranjang dekatnya. Ia menghela napas berat. Sudah dua hari ini, teman sekamar sekaligus sekelasnya, Rinda tidak tidur di ranjangnya. Entahlah, apa yang membuatnya seperti tak ingin sekamar dengan Meda. Meda sudah berhati-hati, sudah mencoba ramah, dan sudah berapa kali pula ia mengalah. Dadanya sesak, kemudian ia menangis, mengapa ia yang seakan jadi tersangka? Apa salahnya? Meda sudah sering terbebani hal-hal seperti ini, dahulu saat Zahra (teman sekelasnya yang sekarang menjadi teman satu kosnya) belum pindah ke kosnya, ia sempat merasakan hal ini. Ia sempat pusing. Terbesit keinginan untuk pergi dan lontang lantung bak anak jalanan. namun uang yang tinggal Rp 5000,00 membuatnya mengurungkan niatnya dan akhirnya ia memilih memejamkan mata
Meda tak pernah ingin membenci orang lain, karena ia tak pernah dibenci. Pikirannya tetap tertuju pada hal yang positif dan lagi-lagi ia menyalahkan dirinya, "Mungkin aku belum menyapu kamar.", kata hati Meda. Ia sebenarnya tak ingin terlibat konflik dengan siapapun, ia mencoba ramah, namun sepertinya ia serba salah. Bahkan sempat ia berkata apakah ia juga salah masuk ke dalam program studi yang sama dan kelas yang sama.
Permasalahan akan teman memang selalu muncul dalam kehidupan Meda sedari dulu, namun ia selalu bisa menyelesaikannya. Bahkan Meda dahulu termasuk orang yang beruntung, walaupun dengan temperamennya yang buruk ia bisa mendapatkan banyak sahabat. Salah satu diantaranya adalah Gita yang tak pernah marah walaupun Meda pernah menyalahkannya karena ia tak melindungi tas Meda dari penggeledahan, sehingga saat itu Gita hanya diam saat melihat Bu Widi, Guru BK SMPnya membawa telepon genggam Meda yang baru untuk disita. Saat itulah Meda marah sembari menangis, tetapi Gita tak meninggalkannya sendiri, permintaan maaf dan hiburanlah yang bisa Gita berikan untuk menebus rasa bersalahnya.
Meda rindu, rindu sosok teman-temannya yang begitu tulus. Ia memandangi foto yang dikreasikan dengan kolase itu, kemudian mengambilnya. Terdapat sosok Afika Diana Syarif, sahabatnya sekaligus saingannya dalam berebut menjadi juara sekolah yang sekarang menjadi calon Ahli Statistika, kenangan saat mengikuti Kuis Fisika pun tak tertolak menghampirinya. Kemudian ia menyentuh potret senyum manis sahabatnya yang setia menemani perjalanannya, Alfiana Zahra, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya. Pandangan mata Meda bergantian satu per satu ke wajah sahabat-sahabatnya, dengan perasaan rindu yang berkecamuk ia menitikkan air mata. Meda menangis. Menangisi mengapa ia tak bisa berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.
"Kamu terlalu kuat untuk bersama mereka. Maka dari itu Allah menghendakimu berpisah dengan mereka agar kamu semakin kuat. Bukankah petarung itu benci jika menemui medan yang sama? Karena ia takkan berkembang. Cobalah lihat Katniss Everdeen, ia saja dua kali bertarung dalam Hunger Games, medannya berbeda, tapi dia bisa."
Kata-kata itu, terlintas di pikirannya dan menghentikan tangisnya. Ya, kata-kata tersebut berasal dari Kakak semata wayangnya Medika. Tak lama kemudian, Meda meletakkan kembali foto terpigura indah itu di tempatnya yang semula. ia kembali fokus pada buku tebal bak bantal Biokimia Harper, buku turunan dari kakaknya, Medi yang telah selesai menempuh studi S1 Pendidikan Dokter di Universitas yang sama dengan Meda.
Siklus Kreb atau TCA Cycle, produk dari Malat yaitu Oksaloasetat yang berekasi dengan Asetil Ko-A menghasilkan Asam Sitrat dan KoA-SH. Produknya yang bernama Sitrat kemudian menjadi Isositrat karena enzim aconitase