Seminggu tak ada libur. Seperti tidak ada malam minggu. Meda melangkahkan kakinya menyebrangi Jalan Prof. Dr. Moestopo menuju Jalan Karang Menjangan. Terlihat dari langkahnya yang pendek-pendek dan cepat, sepertinya ia tersiksa. "Rok ini!", gumam Meda dalam hati. Keringatnya bercucuran, ia nampak semakin kelelahan.
Meda, seorang gadis berusia 18 tahun, bernama lengkap Medalia Nusantara. Namanya sedikit aneh, namun dalam namanyalah tergambar momen penting negara ini. Lahir pada tanggal 21 Mei 1994 di Surabaya, yang saat itu bertepatan dengan kemenangan Indonesia dalam merebut Piala Thomas dan Uber. Ayah dan ibunya adalah penikmat setia sajian olahraga tepok bulu. Untung saja, kakaknya yang bernama Medika Artsen Oktavia lahir di tanggal 24 Oktober 1989, tepat di hari Dokter Indonesia. Kalau lahir di tahun 1992 tepat pada saat Susy Susanti dan Alan Budi Kusuma meraih medali emas Olimpiade Barcelona, mungkin namanya juga akan menjadi "Medali".
Meda baru saja selesai mengikuti kegiatan LKMM-TD (Latihan Keterampilan dan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar), ia harus membatalkan niatnya untuk bertemu ibu dan ayahnya yang saat ini sudah tinggal di Malang.
17.45 ia sampai di rumah singgah. Lelah rasanya. Rasa mengeluh hampir hinggap dan keluar dari mulutnya, mengingat besok ada hari Senin. "Nggak boleh! Bidan nggak boleh ngeluh!!!!", jerit semangat hatinya pada dirinya. Ya, Meda adalah Mahasiswa S1 Pendidikan Bidan Universitas Airlangga. Jelas tertanam dalam dirinya bahwa menjadi seorang bidan tidak ada kata mengeluh, apalagi kata menyerah. Bukankah ini warna-warni hidup? Hidup kita takkan berarti tanpa kita melakukan dan dapat apa-apa. kita akan dapat sesuatu jika kita melakukan sesuatu. Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh seorang Medalia.
Selesai shalat maghrib Meda merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Terlihat temannya yang tak ada di ranjang dekatnya. Ia menghela napas berat. Sudah dua hari ini, teman sekamar sekaligus sekelasnya, Rinda tidak tidur di ranjangnya. Entahlah, apa yang membuatnya seperti tak ingin sekamar dengan Meda. Meda sudah berhati-hati, sudah mencoba ramah, dan sudah berapa kali pula ia mengalah. Dadanya sesak, kemudian ia menangis, mengapa ia yang seakan jadi tersangka? Apa salahnya? Meda sudah sering terbebani hal-hal seperti ini, dahulu saat Zahra (teman sekelasnya yang sekarang menjadi teman satu kosnya) belum pindah ke kosnya, ia sempat merasakan hal ini. Ia sempat pusing. Terbesit keinginan untuk pergi dan lontang lantung bak anak jalanan. namun uang yang tinggal Rp 5000,00 membuatnya mengurungkan niatnya dan akhirnya ia memilih memejamkan mata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar