Meda tak pernah ingin membenci orang lain, karena ia tak pernah dibenci. Pikirannya tetap tertuju pada hal yang positif dan lagi-lagi ia menyalahkan dirinya, "Mungkin aku belum menyapu kamar.", kata hati Meda. Ia sebenarnya tak ingin terlibat konflik dengan siapapun, ia mencoba ramah, namun sepertinya ia serba salah. Bahkan sempat ia berkata apakah ia juga salah masuk ke dalam program studi yang sama dan kelas yang sama.
Permasalahan akan teman memang selalu muncul dalam kehidupan Meda sedari dulu, namun ia selalu bisa menyelesaikannya. Bahkan Meda dahulu termasuk orang yang beruntung, walaupun dengan temperamennya yang buruk ia bisa mendapatkan banyak sahabat. Salah satu diantaranya adalah Gita yang tak pernah marah walaupun Meda pernah menyalahkannya karena ia tak melindungi tas Meda dari penggeledahan, sehingga saat itu Gita hanya diam saat melihat Bu Widi, Guru BK SMPnya membawa telepon genggam Meda yang baru untuk disita. Saat itulah Meda marah sembari menangis, tetapi Gita tak meninggalkannya sendiri, permintaan maaf dan hiburanlah yang bisa Gita berikan untuk menebus rasa bersalahnya.
Meda rindu, rindu sosok teman-temannya yang begitu tulus. Ia memandangi foto yang dikreasikan dengan kolase itu, kemudian mengambilnya. Terdapat sosok Afika Diana Syarif, sahabatnya sekaligus saingannya dalam berebut menjadi juara sekolah yang sekarang menjadi calon Ahli Statistika, kenangan saat mengikuti Kuis Fisika pun tak tertolak menghampirinya. Kemudian ia menyentuh potret senyum manis sahabatnya yang setia menemani perjalanannya, Alfiana Zahra, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya. Pandangan mata Meda bergantian satu per satu ke wajah sahabat-sahabatnya, dengan perasaan rindu yang berkecamuk ia menitikkan air mata. Meda menangis. Menangisi mengapa ia tak bisa berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.
"Kamu terlalu kuat untuk bersama mereka. Maka dari itu Allah menghendakimu berpisah dengan mereka agar kamu semakin kuat. Bukankah petarung itu benci jika menemui medan yang sama? Karena ia takkan berkembang. Cobalah lihat Katniss Everdeen, ia saja dua kali bertarung dalam Hunger Games, medannya berbeda, tapi dia bisa."
Kata-kata itu, terlintas di pikirannya dan menghentikan tangisnya. Ya, kata-kata tersebut berasal dari Kakak semata wayangnya Medika. Tak lama kemudian, Meda meletakkan kembali foto terpigura indah itu di tempatnya yang semula. ia kembali fokus pada buku tebal bak bantal Biokimia Harper, buku turunan dari kakaknya, Medi yang telah selesai menempuh studi S1 Pendidikan Dokter di Universitas yang sama dengan Meda.
Siklus Kreb atau TCA Cycle, produk dari Malat yaitu Oksaloasetat yang berekasi dengan Asetil Ko-A menghasilkan Asam Sitrat dan KoA-SH. Produknya yang bernama Sitrat kemudian menjadi Isositrat karena enzim aconitase
Tidak ada komentar:
Posting Komentar